Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

iPhone 5S Bermasalah Seperti Windows PC

Written By bopuluh on Minggu, 13 Oktober 2013 | 22.05

Blue screen pada iPhone 5S

KOMPAS.com - Pengguna Windows pasti akrab dengan "Blue Screen of Death" (BSOD) alias layar biru berisi pesan error yang muncul apabila sistem mengalami crash.

Kalau sudah nongol, maka jalan satu-satunya untuk membuat komputer kembali bekerja adalah dengan melakukan restart.

Hal semacam itu ternyata bukan monopoli Windows semata, melainkan bisa juga terjadi pada Apple iPhone 5S.

Sebagaimana dilansir The Verge, sejumlah pengguna melaporkan kasus di mana smartphone populer itu berhenti berfungsi (hang) dengan layar biru dan melakukan restart dengan sendirinya.

Kejadian blue screen ini disinyalir berkaitan dengan bug pada suite aplikasi iWork yang dipaketkan bersama seluruh perangkat iOS terbaru.

Pengguna mengeluhkan kejadian blue screen pada iPhone 5S lewat Twitter

Sebuah video memperlihatkan bahwa BSOD pada iPhone 5S muncul ketika pengguna melakukan multitasking, berpindah-pindah antar aplikasi yang sedang berjalan.

Beberapa pengguna juga melaporkan bahwa iPhone 5S mereka seringkali melakukan reboot sendiri secara acak selagi dipakai.

Apple sendiri sebelumnya telah merilis update iOS 7.0.2 untuk mengatasi bug keamanan layar lock scren pada sistem operasi tersebut. Tapi masalah reboot mendadak masih terus terjadi.

Pengguna yang mengalami masalah ini menyalurkan keluhan lewat sejumlah thread di forum Apple dan posting Twitter. Crash yang berhubungan dengan iWorks kabarnya bisa diredam dengan mematikan fitur sinkronisasi iCloud untuk aplikasi Pages, Keynote, dan Numbers.


22.05 | 0 komentar | Read More

Superblok Mulai Masuk Bogor

BOGOR, KOMPAS.com - Tren superblok tak hanya memenuhi Jakarta, tapi juga mulai masuk ke Bogor. Tengok saja rencana proyek Bogor Icon yang terdiri dari integrasi hotel, apartemen, perkantoran, dan pusat komersial di dalam satu kawasan.

"Tentu saja peluang, karena ini memang proyek pertama superblok di Bogor," kata CEO Gapura Kencana Abadi Land (GKA Land), Dedi Setiadi, pada acara topping off  kondotel dan apartemen di Bogor Icon Superblock, di Bogor, Sabtu (12/10/2013) lalu. 

Bogor Icon berlokasi di kawasan perumahan Bukit Cimanggu City, yang dapat di akses dari dua pintu tol yaitu, ruas BORRR dan Jagorawi Bogor. Dibangun di atas lahan 1,5 hektar, pembangunan proyek ini dilaksanakan dalam 2 tahap. Tahap pertama dan kedua dengan luas bangunan 41.000 m2, sementara tahap ketiga untuk 24.000 m2.  

Dedi mengatakan, superblok ini nantinya meliputi menara perkantoran, kondotel, apartemen, pusat hiburan dan rekreasi, ruang rapat, dan gerai-gerai kafe dan kuliner. Semua fasilitas tersebut dibangun secara terpadu dengan dengan konsep alam Bali. 

"Targetnya pasar profesional dan pengusaha yang memiliki gaya hidup dan menginginkan benefit dari propertinya," kata Dedi.

Dedi mengklaim, di awal peluncurannya pada akhir 2011 lalu para pembeli unit telah menikmati gain lebih kurang 85 persen sampai saat ini. Adapun investasi yang digelontorkan untuk superblok ini mencapai total Rp 450 milliar. Saat ini, GKA Land tengah menyelesaikan dan membangunTower Bravia– Bogor Icon Condotel  dengan total unit 340 unit.

"Untuk operator hotelnya kami menunjuk Best Western International dan kami jadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan 2014 nanti," ujarnya.

Selain kondotel yang sudah memasuki tahap topping off di superblok ini, GKA Land juga akan meluncurkan Tower Alpine–Apartment dengan total unit 212 unit dalam satu tower. Saat ini, pihaknya baru menggelar topping off Tower Batavia dan Tower Alpine. Sementara untuk perkantoran, GKA Land tengah menyelesaikan Central Office Tower dengan total luas 5.000 m2, mulai tipe 40 m2 hingga 150 m2.

"Kami melirik perkembangan Kota Bogor, khususnya Bogor Utara setelah adanya pembangunan jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR) yang menghubungkan Kota Bogor dan
dan area-area komersial di Bogor Utara," kata Dedi.


22.05 | 0 komentar | Read More

Kiswanti, Lulusan SD yang Berhasil Memberantas Buta Huruf di Lebak

KOMPAS.com - Banyak cara dilakukan orang untuk berjuang bagi bangsa. Seperti Kiswanti, buku menjadi pilihannya untuk berkontribusi dan berperan bagi bangsanya.

Pendiri taman bacaan masyarakat Warabal atau Warung Baca Lebak Wangi, Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini memang menjadikan buku sebagai senjatanya untuk memajukan Indonesia. 

Melalui koleksi buku di taman bacaan miliknya, Kiswanti berharap setiap masyarakat mendapatkan akses pendidikan yang sama. Dengan begitu, semua warga dapat menjadi manusia terdidik, baik mendidik diri sendiri maupun mendidik orang lain.

Perempuan kelahiran Bantul, DI Yogyakarta, 4 Desember 1963, menceritakan bahwa di daerah tempat ia tinggal, di Lebak, angka buta aksara justru terjadi pada mereka yang memasuki usia lanjut, yaitu di atas 70 tahun. Kebanyakan dari mereka hanya menguasai huruf-huruf kuno.

Kiswanti mengaku, upayanya sangat dilandasi prinsip tak mengenal usia dan warna kulit. Sebagai penganut Islam, ia juga mempercayai bahwa ajarannya mengatakan kalau setiap orang berkewajiban untuk menuntut ilmu, mulai dari dalam kandungan hingga di liang lahat. Oleh karena itu, Kiswanti merasa memiliki tanggungan untuk mengajari para lansia dengan menumbuhkan minat baca.

"Tapi, dengan syarat, hanya untuk mereka yang mau. Tugas kita menstimulus dan merangkul mereka biar mau belajar. Saya yakin, semua yang kita lakukan dengan kebaikan pasti akan menghasilkan kebaikan. Yang jelas, kita menikmati proses itu. Kalau hasil dari proses itu baik, jadi bonus buat kita," cerita Kiswanti kepada Kompas.com di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (11/10/2013).

Niat, Rencana, dan Mental Kuat 

Mendirikan sebuah taman bacaan yang tadinya hanya beralaskan papan, dan kini layaknya sebuah gedung di Lebak, bukanlah perkara mudah bagi Kiswanti. Semua pengalaman, baik yang bagus maupun yang buruk, dijadikannya sebagai pengalaman berharga. Untuk melakukan sesuatu, menurut dia, harus dimulai dengan niat, rencana, dan mental yang kuat. Jangan sampai, dimulai dari hati, tapi perilakunya malah tidak dilandaskan dengan hati.

Kiswanti memberi contoh soal permasalahan tidak memiliki buku. Ia mengaku tidak punya uang untuk membeli. Nyatanya, dengan tekad bulat, persoalan ini bisa ia siasati. Kiswanti mencari pengadaan buku-buku di tukang loak koran, majalah, serta buku-buku bekas.

"Kita punya niat dan rencana, dan tak kalah penting antisipasi untuk berjaga-jaga kalau nanti saat di perjalanan kita tersandung, lalu jatuh. Jadi, selain niat, mental juga harus kita siapkan dulu," katanya.

Tumbuh sebagai seorang anak yang hanya lulusan Sekolah Dasar tak membuat Kiswanti patah semangat untuk terus belajar. Keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarganya tak menjadi batasan kegemarannya membaca segala jenis buku.

Pendidikan formal di sekolahnya diganti dengan pendidikan yang diajarkan oleh sang ayah, Trisno Suwarno. Kiswantu bertutur, ayahnya biasa berperan menjadi guru di rumah apabila telah selesai bekerja sebagai penarik becak. Upah hasil menarik becak, juga digunakan untuk membeli berbagai jenis buku.

Alternatif belajar seperti itu terus diikuti oleh Kiswanti hingga ia dewasa. Selain mengandalkan upah ayahnya, Kiswanti juga memiliki cara lain agar terus dapat menambah koleksi buku dan mewujudkan taman bacaan. Misalnya, ia bekerja menjadi pengupas kacang tanah dan melinjo. Dari pekerjaan mengupas satu kilogram kacang itu ia mendapat upah Rp 7,5. Kiswanti bilang, walaupun hasilnya sedikit, ia senang menjalankan proses tersebut sehingga tidak merasa terbebani.

Ia mengaku, meski tak sekolah, dirinya rajin membaca pelajaran setingkat SMP-SMA. Jika tak mengerti, ia bertanya kepada tetangganya yang berprofesi sebagai guru. Karena kecerdasan otaknya menangkap ilmu, Kiswanti seringkali menjadi tempat bertanya teman seusianya yang justeru bisa melanjutkan sekolah. Tak heran, saking semangatnya, hingga saat ini Kiswanti masih tetap berniat bisa mendirikan sebuah perpustakaan gratis.

Cita-cita itu bukan tanpa dasar yang kuat. Kiswanti pun menceritakan kembali pengalaman masa kecilnya. Sewaktu masih kanak, hasratnya menjadi anggota perpustakaan sudah ada. Namun, muncul sebuah pertanyaan dalam benaknya. Mengapa untuk menjadi seorang anggota, harus dikenakan biaya?

Saat itulah, ia berpikir seharusnya perpustakaan dapat dinikmati semua kalangan dan tidak membutuhkan biaya perawatan. Akhirnya, setelah berpuluh tahun berhasil mengelola taman bacaan, ternyata anggapannya salah. Sama dengan yang lainnya, ia juga membutuhkan biaya untuk perawatan koleksi buku. Cita-cita itu masih masih terpatri kuat di dalam benaknya hingga sekarang.

Buang stereotip

Kian lama, Taman Bacaan Warabal dan perjuangan Kiswanti semakin dikenal masyarakat Lebak. Akhirnya, Kiswanti bertemu dengan salah seorang staf Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mengajaknya untuk mengumpulkan buku dan juga mengenalkannya pada kolega lainnya. Sejak itu, Kiswanti sering diajak ke Jakarta untuk mengunjungi pameran buku.

Pergi ke ibu kota kini bukan hal yang mustahil lagi bagi dirinya. Seiring berjalanya waktu, koleksi buku Taman Bacaan Warabal yang pada awalnya berjumlah 250 koleksi, bertambah banyak hingga puluhan ribu koleksi.

Selain anak-anak, kata Kiswanti, ibu-ibu juga menggemari datang ke taman bacaannya untuk membaca buku keterampilan. Di taman bacaan itu pula, ibu-ibu dapat mempraktikkan seni keterampilan. Dari keterampilan itu, mereka dapat menghasilkan sebuah keuntungan ekonomis. Misalnya, menjual barang hasil karya keterampilan ke koperasi di kota.

Suatu penghargaan, Kiswanti dapat menarik warga untuk mau membaca buku di taman bacaan miliknya. Ia menceritakan, para warga sekitar awalnya tidak mengetahui kalau membaca adalah sebuah kebutuhan.

"Mereka menganggap bahwa membaca itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang kaya dan mewah. Karena itulah warga miskin tidak dapat membaca," kata Kiswanti.

Kiswanti pun berupaya mendobrak stereotip itu. Ia kini membuktikan bawha seluruh warga desanya sudah dapat membaca. Buku-buku itu pun disediakan tanpa memandang harta dan benda.

Ia akui, untuk dapat menumbuhkan minat baca pada warga itu membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun. Sepuluh tahun berikutnya, masyarakat akan menyadari banyak efek dan manfaat yang didapat dari membaca buku.

"Intinya adalah menikmati semua proses yang ada," kata Kiswanti, yang sejak umur 33 tahun mulai mendirikan Taman Bacaan Warabal tersebut.

Waktu berpuluh-puluh tahun itu pun akhirnya tidak terasa. Tanpa sadar, Kiswanti sudah melewati berbagai liku perjalanan hidupnya yang "unik" ini. Taman Bacaan Warabal yang pada awalnya berdiri hanya dihadiri oleh lima anak, semakin lama semakin bertambah.

Anak-anak yang membaca buku di sana saling menceritakan satu sama lain tentang Taman Bacaan Warabal di sekolah hingga semakin berkembang menjadi sebuah bimbingan belajar semi permanen. Apabila ada anak-anak yang kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya, dapat ditanyakan di Taman Bacaan Warabal.

Selain itu, di taman bacaan itu juga diajarkan ilmu-ilmu agama, seperti ilmu Hadist, Al-Quran, Fiqih, dan Marawis. Melihat perjuangan panjang yang ditunjukkan Kiswanti, tak sedikit keluarga dan tetangga yang turut mendukung kegiatan edukasinya itu.

Kiswanti mengaku, semangat memberikan pengetahuan lewat taman bacaan ini perlu diperluas. Karena itu, di Hari Aksara Internasional yang dirayakan setiap 8 September, ia berharap tidak sekadar sebagai peringatan seremonial. Kiswanti memiliki harapan agar semua unsur turun langsung dan memberantas buta aksara demi memajukan pendidikan.

Tak hanya pemerintah saja yang memiliki peran untuk memajukan pendidikan. Menurut dia, semua warga seharusnya dapat kontribusi apapun yang bisa diberikan untuk bangsa dan negaranya dan dengan cara apa saja.

"Saya suka membaca dan ingin menularkan kegiatan itu pada orang lain dengan taman bacaan. Buat saya, itu sudah menjadi kontribusi dalam dunia pendidikan," kata Kiswanti.

Editor : Latief


22.05 | 0 komentar | Read More

Tewas karena Miras, Efek Budaya Nongkrong

Written By bopuluh on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 22.05

Evy Clara, Sosioloh Universitas Negeri Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus meninggalnya beberapa pria akibat menenggak minuman beralkohol oplosan bukan kali ini saja terjadi. Banyak kasus yang sama dan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut saya, itu adalah salah satu efek dari budaya nongkrong, terutama di kalangan anak muda. Mereka yang mengonsumsi miras oplosan umumnya berasal dari kalangan sosial menengah ke bawah. Mereka biasanya berkumpul di gang, di titik nongkrong favorit, dan secara patungan membeli berbagai bahan yang mereka campur tanpa memperhitungkan kesehatan atau dampak nantinya.

Mayoritas mereka adalah pemuda-pemuda yang frustrasi atau tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Mereka tidak banyak punya aktivitas, sementara tingkat kebutuhan ekonomi di Jakarta begitu tinggi. Jadi, tidak ada pelampiasan lain dari para pemuda itu selain nongkrong, berkumpul dengan rekan-rekannya yang mengalami nasib sama.

Mereka merasa, dengan mabuk-mabukan maka pikiran menjadi tenang, lepas dari pikiran-pikiran berat soal kehidupan, tanpa memikirkan lagi bahaya dari minuman yang mereka konsumsi.

Jika ada pertanyaan, apa solusi yang efektif untuk mencegah terjadinya hal yang sama? Ini membutuhkan jawaban yang tidak mudah. Bisa dengan upaya menarik atau merazia miras di lapak-lapak yang menjualnya, karena konsumen miras murah ini biasanya berasal dari kalangan bawah. Tetapi khusus untuk mereka yang suka mengoplos minuman, ini memang sulit diatasi.

Sebab, kadang mereka menggunakan alkohol murni yang dicampur dengan berbagai bahan. Sementara, alkohol banyak dijual bebas di apotek. Penjaga apotek pun tidak bisa tahu pembeli mana yang benar-benar menggunakan alkohol untuk keperluan medis dan pembeli mana yang menyalahgunakan alkohol sebagai miras oplosan.

Sementara peran dari tokoh masyarakat atau pemuka agama masih kurang dalam menyasar kelompok kelas bawah. Bagus juga jika ada pemuka agama yang berdakwa di lokasi-lokasi rawan kenakalan seperti terminal atau perkampungan di mana di sana banyak pemuda menganggur. Berikan edukasi dari sisi agama maupun bahaya dari mengonsumsi miras maupun narkoba.

Selain itu, pemerintah harus secara tegas bertindak dengan mengerahkan Satpol PP untuk secara rutin merazia tempat-tempat nongkrong para pemuda. Sebab, di tempat nongkrong itulah ide untuk mengonsumsi miras bermula.

Editor : Ana Shofiana Syatiri


22.05 | 0 komentar | Read More

Scorpio Dipilih karena Lebih Gagah!

Cenggu, KompasOtomotif - Rumah modifikasi sepeda motor, Deus ex Machina, boleh jadi bukan yang pertama memopulerkan gaya "Street Tracker" sebagai aliran custom. Tapi, berkat paket gaya hidup yang digaungkannya, berhasil diciptakan level baru industri modifikasi sepeda motor di Indonesia. Apalagi, mayoritas konsumen Deus merupakan warga asing!

"Hampir 95 persen konsumen kami 'bule'. Kami banyak memilih Scorpio karena rangkanya gagah dan punya mesin mumpuni," celoteh Bagio, modifikator Deus di Cenggu, Kuta Utara, Bali, kemarin (12/10/2013).

Pada dasarnya, Deus membangun konsep "custom" sepeda motor untuk inspirasi. Tapi, finalisasi dan pemilihan bahan diserahkan sepenuhnya sesuai permintaan konsumen. Modifikasi juga lebih fokus pada faktor tampilan bukan "ngoprek" jeroan seperti mesin atau karburator.

"Scorpio merupakan sepeda motor yang umum di Indonesia, jadi kami mau membuatnya lebih menyenangkan. Kami suka yang simpel-simpel," tukas Dustin Humphrey, pemilik sekaligus pengelola Deus ex Machina.

Saat ini, Dustin mengaku lagi menggarap Byson dan V-Ixion untuk dimodifikasi sekaligus memperlebar cakupan pasar yang dibidiknya. "Sebenarnya saya kurang suka membangun sepeda motor dengan rangka delta box, tetapi orang lain sudah melakukannya. Jadi, kita harus tetap terus berkembang," beber Dustin.
 

Editor : Aris F. Harvenda


22.05 | 0 komentar | Read More

Pusat Ekonomi Depok Ada di 6 Kawasan Ini!

DEPOK, KOMPAS.com - Selama ini, publik mengenal pusat bisnis dan ekonomi Kota Depok hanya terkonsentrasi di koridor Margonda. Betapa tidak. Di sini telah banyak berdiri fasilitas-fasilitas komersial yang menjadi magnet kuat dan tempat berkumpulnya masyarakat dari seluruh penjuru Kota Depok untuk melakukan transaksi ekonomi.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Depok telah menyiapkan rencana strategis agar magnit pertumbuhan tersebar merata ke seluruh wilayah Kota. Wali Kota Depok, Nurmahmudi Ismail, mengatakan ada 6 kawasan yang dirancang sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru. Enam kawasan tersebut adalah Cinere, Bojongsari, Cimanggis, Cibubur, Tapos, dan Citayam.

Nurmahmudi memastikan, keenam kawasan itu dijadikan sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru karena memiliki potensi dan keunggulan komparatif. Terlebih lagi, beberapa di antara enam kawasan tersebut dilintasi oleh infrastruktur yang kini tengah dibangun.

Sebut saja, Cinere misalnya. Kawasan ini berada di tiga persimpangan tol yakni Tol Cinere-Jagorawi (Cijago), Tol Depok Antasari (Desari) dan Tol Cinere-Serpong.

"Keberadaan tol tersebut dapat menarik minat investor dan Cinere akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kami merancangnya sebagai kawasan permukiman berkonsep vertikal. Nantinya, di sini banyak pengembangan-pengembangan properti baru," papar Nurmahmudi kepada Kompas.com, Kamis (10/10/2013).

Sementara Bojongsari, akan dijadikan sebagai sentra agroindustri. Banyak usaha kecil menengah (UKM) yang sudah menghasilkan produk olahan buah dan sayuran.

Lain lagi dengan Cibubur yang sudah pasti didapuk sebagai destinasi wisata, karena di sini terdapat Taman Rekreasi Wiladatika. Jadi industri yang akan dikembangkan di sini berbasis pada pariwisata alam atau eco tourism. Sementara itu, kawasan Cimanggis lebih kepada pusat ekonomi berbasis industri kreatif.

"Kami mengembangkannya dengan bertopang pada keunggulan Sumber Daya Manusia yang banyak menghasilkan ide, gagasan dan karya kreatif. Maka, kami membuka peluang luas bagi investor yang ingin membangun idnustri kreatif di wilayah Cimanggis. Sejauh ini, kami sudah menerima komitmen investasi dari Grup Mahaka yang akan mengembangkan studio alam," tandas Nurmahmudi.

Dengan dibukanya keenam pusat pertumbuhan ekonomi baru tersebut, Nurmahmudi berharap, pembangunan tersebar merata, Pendapatan Asli Daerah Kota Depok meningkat dan pada gilirannya masyarakat menikmati pembangunan dalam level hidup yang sejahtera.


22.05 | 0 komentar | Read More

Sehari Setelah Nikah, Nikita Mirzani Bekerja di Lombok

Written By bopuluh on Jumat, 11 Oktober 2013 | 22.05

JAKARTA, KOMPAS.com -- "Rezeki enggak boleh ditolak," ucap Nikita Mirzani (27) dalam wawancara sesudah menjalani akad nikahnya di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Jumat (11/10/2013).

Kata-kata itu keluar setelah Nikita menerangkan bahwa sehari sesudah akad nikahnya ia harus langsung bekerja, mengisi sebuah acara di Lombok. Tawaran tersebut diterimanya karena ia pantang menolak rezeki.

"Ya, jadi besok (Sabtu ini) mau langsung ke Lombok untuk nyanyi," tutur bintang film Comic 8 ini.

Meski sudah menjadi istri dari Sajad Ukra (37), yang bekerja di Singapura, Nikita tetap menjalani profesinya sebagai artis. Akunya, penghasilannya untuk membeli kebutuhan pribadinya, sedangkan uang dari Sajad untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga mereka.

"Kalau uang saya, buat beli tas. Uang dia buat belanja makanan dan lain-lain," ucapnya lagi.


22.05 | 0 komentar | Read More

Manado, Nasibmu Kini...


MANADO, KOMPAS.com
- Tak hanya Jakarta, banyak kota besar di Indonesia mulai dilanda kemacetan. Kota Manado, misalnya. Kondisi jalanan di ibukota provinsi Sulawesi Utara ini selalu dikeluhkan warga karena semakin macet.

"Hampir di semua titik jalan utama, terjadi kemacetan apalagi di jam-jam sibuk. Dan parahnya ini sudah berlangsung terus menerus tanpa pernah terselesaikan," ujar Ronald Sompie, salah satu warga yang ditemui di angkutan kota, Sabtu (12/10/2013).

Di samping jumlah kenderaan yang sudah sangat banyak, kemacetan di Kota Manado juga diperparah dengan beberapa ruas jalan utama yang melintas di tengah kota juga terlihat berlubang-lubang dan rusak. Belum lagi, perilaku pengguna jalan yang sering tidak mematuhi aturan berlalu lintas.

Data dari Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sulut menyebutkan bahwa setiap bulan ada sekitar 4.000 hingga 6.000 kendaraan baru yang masuk di Sulut. Pertumbuhan kenderaan baru itu diprediksi akan semakin tinggi dengan rencana kedatangan mobil murah berkonsep city car dengan harga yang diklaim murah.

Walau pun laju pertumbuhan kendaraan mengindikasikan angka pertumbuhan ekonomi yang positif karena daya beli warga Sulut tinggi, namun lambatnya pertumbuhan pembangunan ruas jalan baru terutama di Manado justru menjadi permasalahan tersendiri yang berdampak pula pada sektor ekonomi dan jasa.

Hingga Agustus 2013, total kendaraan yang tercatat di Dirlantas Polda Sulut mencapai 776.163 unit yang meliputi kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara itu, total panjang jalan di Kota Manado hanya sekitar 500 kilometer. Praktis kondisi ini membuat kemacetan terutama di Kota Manado semakin parah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manado, Ferry Siwi beberapa waktu lalu mengakui bahwa jika kondisi ini tidak segera dicarikan solusinya maka bisa dipastikan beberapa tahun ke depan kemacetan di Manado akan semakin parah. Ironisnya beberapa mega proyek pembangunan infrastruktur pendukung lalu lintas justru macet pengerjaannya. Sebut saja pembangunan Jembatan Soekarno yang menelan biaya milyaran rupiah itu, sudah hampir 10 tahun mega proyek yang diharapkan bisa mengurai kemacetan di Manado hingga saat ini tidak jelas kelanjutannya.

Demikian pula rencana pembangunan ruas jalan Boulevard II sebagai kompensasi direklamasinya garis pantai Kota Manado hingga kini juga tidak jelas arahnya.

Beberapa warga yang ditemui Kompas.com, berharap pemerintah daerah segera mencarikan solusi terbaik mengatasi permasalahan ini. Sebab menurut warga, kondisi kemacetan yang parah itu membuat aktivitas mereka banyak kali terhambat.

"Kadangkala, perjalanan yang hanya butuh waktu 20 menit menjadi lebih dari satu jam akibat kenderaan yang terjebak macet," tambah Ronald.

Editor : Caroline Damanik


22.05 | 0 komentar | Read More

Siapa Pengganti Marc Jacobs di Louis Vuitton?

KOMPAS.com - Nama Nicolas Ghesquiere santer disebut sebagai pengganti Marc Jacobs di Louis Vuitton. Dugaan ini makin kuat karena ia telah meninggalkan jabatannya sebagai artistic direction di Balenciaga sejak November tahun lalu.

Meski begitu pihak Louis Vuitton belum mau memberikan pernyataannya terkait hal tersebut. "Kami belum bisa berkomentar banyak mengenai ini semua," ujar salah satu juru bicara Louis Vuitton.

Banyak beberapa fashionista yang penasaran mengenai ini, contoh saja Financial Times fashion editor, Vanessa Friedman, yang masih ragu akan kabar burung ini.

"Berita dari Twitter resmi @LVMH masih menyangkalnya. Mungkin saja semuanya berubah sekarang?," tuturnya.

Nicolas Ghesquiere, dikenal sebagai desainer sejak ia menaungi brand Paris fashion house, Balenciaga pada tahun 1997. Saat itu usianya masih 25 tahun. Namun ia sudah meninggalkan posisinya pada brand tersebut sejak November tahun lalu. Baru-baru ini, ia juga dituntut oleh brand yang telah membesarkan namanya itu karena dianggap telah membocorkan rahasia perusahan ke pihak lain.

Sumber :

Penulis :

K. Wahyu Utami

Editor :

Lusia Kus Anna


22.05 | 0 komentar | Read More

Sesi I, IHSG Naik di Level 4.512,12

Written By bopuluh on Kamis, 10 Oktober 2013 | 22.05


JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada jeda sesi I, Jumat (11/10/2013) berhasil bertahan di zona hijau, seiring dengan sentimen positif yang menyelimuti pasar regional.

Indeks ditutup di level 4.512,12 atau naik 25,44 poin (0,56 persen). Nilai transaksi yang berhasil dibukukan pada Rp 3,1 triliun dengan volume transaksi mencapai 2,6 miliar saham. Terdapat 136 saham yang harganya naik, 79 saham turun dan 94 tidak berubah.

Seluruh indeks seluruhnya sektoral menguat, meskipun masih di level moderat. Adapun saham-saham yang menjadi top gainers adalah ITMG (6,16 persen), HMSP (1,62 persen), MYOR (2,74 persen), AALI (2,40 persen), GMTD (5,79 persen) dan SMGR (2,16 persen).

Seluruh bursa di kawasan Asia Pasifik menguat, dan penguatan tertinggi dicatatkan oleh bursa Tokyo, di mana indeks Nikkei naik 1,57 persen. Hal ini merupakan pengaruh dari masuknya Janet Yellen sebagai kandidat Gubernur the Fed menggantikan Ben Bernanke.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko


22.05 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger